Google, BlackBerry, dan Jaminan Sosial

Pertengahan tahun 2011 ini, Pemerintah Indonesia sempat mendapat angin segar dengan tertariknya Research In Motion (RIM) selaku produsen BlackBerry untuk membuka pabrik baru di Indonesia. Keinginan RIM ini pun wajar mengingat pasar BlackBerry di Indonesia cukup besar, bahkan terbesar di wilayah Asia Tenggara. Kegembiraan Pemerintah pun wajar karena jika RIM membuka pabrik baru di Indonesia, maka otomatis akan membuka lapangan pekerjaan baru yang besar, yang tampaknya “sulit” disediakan oleh pemerintah.

Namun pada bulan Juli 2011, angin segar tersebut tampaknya hanya menjadi angin segar belaka, karena akhirnya RIM memutuskan membangun pabrik barunya di Malaysia, bukan Indonesia. Bahkan pabrik baru tersebut sudah beroperasi per tanggal 1 Juli 2011.

Keputusan RIM untuk membangun pabrik barunya di Malaysia cukup mengejutkan banyak pihak, karena jika dibandingkan antara pasar BlackBerry di Malaysia dan Indonesia, maka sebenarnya pasar potensial BlackBerry adalah Indonesia. Karena diperkirakan pada tahun depan, jumlah handset BlackBerry yang akan terjual di Indonesia adalah sebanyak 4 juta unit, sedangkan di Malaysia hanya sekitar 400 ribu unit saja.

Tentunya terdapat alasan mengapa RIM malah tidak memilih pasar gemuknya sendiri (Indonesia) untuk mendirikan pabrik. Namun ternyata, dalam hal ini RIM tidaklah sendiri. Beberapa waktu yang lalu, Google lebih memilih Malaysia dibandingkan Indonesia sebagai kantor keduanya di Asia Tenggara setelah Singapura. Google mendirikan kantor perwakilannya di Malaysia pada bulan Januari yang lalu.

Apa hubungannya dengan jaminan sosial?
Lalu apa hubungan ini semua dengan jaminan sosial, apakah Google dan RIM takut kalau nanti labor cost mereka akan melonjak tinggi karena harus membayar iuran jaminan sosial? Bukankah iuran jaminan sosial di negara asal mereka (Kanada dan Amerika) dan Malaysia jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia? Bukankah labor cost di Indonesia jauh lebih murah jika dibandingkan dengan di Malaysia?

Ya, bagi kita yang mengerti dan mempelajari praktek penyelenggaraan jaminan sosial dimana pun, besaran iuran jaminan sosial tidak menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan besar seperti Google dan RIM untuk membangun/tidak membangun kantor atau pabriknya di suatu negara.

Mengapa demikian, karena mereka mengerti bahwa jaminan sosial adalah hak karyawannya yang wajib untuk dipenuhi dengan senang hati, bukan dengan terpaksa. Hal ini berbeda sekali dengan sikap beberapa oknum pengusaha di Indonesia yang merasa keberatan untuk mengikutkan karyawannya dalam program jaminan sosial, meskipun diwajibkan oleh UU Jamsostek. Bahkan terkait akan diimplementasikannya UU SJSN pasca pengesahan RUU BPJS di bulan Oktober mendatang, beredar penyesatan ke publik bahwa iuran jaminan sosial sangat memberatkan pengusaha, membuat investor lari, dan dapat membuat negara ini bangkrut. Pertanyaannya adalah, bagaimana dengan iuran jaminan sosial di Kanada, Amerika, dan Malaysia, apakah tidak memberatkan? Apakah tidak membuat para investor lari? Apakah tidak membuat negara-negara itu bangkrut?

Aneh rasanya kalau ada pengusaha bahkan pemerintah yang mengatakan seperti itu. Mengapa demikian? Iuran program jaminan sosial di Kanada, Amerika, dan Malaysia itu jauh lebih tinggi daripada di Indonesia. Hanya untuk program Jaminan Hari Tua (JHT) atau yang sejenisnya, pengusaha di Kanada harus mengiur sebesar 4,95%, di Amerika sebesar 6,2%, dan di Malaysia sebesar 12%, dari upah bulanan pekerjanya. Sementara di Indonesia, untuk program yang serupa, pengusaha hanya membayar sebesar 3,7% dari upah bulanan pekerjanya.

Lalu jika iuran jaminan sosial di Indonesia jauh lebih rendah daripada di Malaysia, mengapa Google dan RIM lebih memilih membuka kantor atau pabriknya disana, karena jaminan sosial? Mengapa iklim investasi di Malaysia lebih menjanjikan dibandingkan dengan Indonesia? Padahal upah buruh (labor cost) di Indonesia jauh lebih murah.

Oleh karena itulah, mengatakan bahwa iuran jaminan sosial memberatkan pengusaha dan membuat investor lari, bagi saya, sangat tidak beralasan. Namun bagi sebagian orang, pendapat saya ini pun bisa menjadi tidak berdasar, terutama dengan argumen bahwa Google dan RIM adalah perusahaan multinasional yang sangat besar yang berbeda sekali kondisi keuangannya dengan pengusaha di Indonesia.

Tapi inilah pandangan saya, bagaimana pandangan Anda? Silahkan berkomentar.

Post to Twitter Post to Yahoo Buzz Post to Facebook Post to Google Buzz Post to LinkedIn

Profil PdAnthony

Program Manager of Institut Jaminan Sosial Indonesia (IJSI) | Diskusan | Konsultan | Peneliti | Freelance Webmaster

Tags: , ,

1 Komentar pada "Google, BlackBerry, dan Jaminan Sosial"

  1. dr.Kurnadi Sumawigan says:

    MUNGKIN MEREKA KURANG INFORMASI, POTENSI TENAGA MEDIS DAN PARA MEDIS YANG AKAN MENGGUNAKAN BB TERUTAMA DIDAERAH TERPENCIL AKAN SANGAT MENINGKAT DENGAN DISAHKANNYA RUU BPJS 1 KESEHATAN.TENAGA PPK/ KESEHATAN ITU AKAN BETAH TINGGAL DI DAERAH TERPENCIL KARENA ADANYA PERUBAHAN SISTEM FFC MENJADI KAPITASI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


2 × = four

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Konsultan. Sosialisasi. Penelitian. Pelatihan. Jaminan Sosial.